Kadek Nando, Seniman Muda Bangli yang Berprestasi Lewat Karya Tapel dan Ogoh-Ogoh Mini
Kadek Nando Bersama karya Mong Dyahmaya dalam lomba Gombloh Art 2026.
DENPASAR, Balilemuh.id– Berawal dari kegemaran membuat ogoh-ogoh sejak duduk di bangku sekolah dasar, I Kadek Nando Revalyawan Putra kini menjelma menjadi salah satu seniman muda yang serius menekuni dunia tapel dan ogoh-ogoh di Bali. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, pemuda asal Bangli ini telah menorehkan sejumlah prestasi melalui karya-karya yang tidak sekadar mengandalkan bentuk visual, tetapi juga mengangkat narasi dan kritik terhadap perilaku manusia.
Perjalanan Nando di dunia seni ogoh-ogoh dimulai sekitar 2015. Ketertarikannya terhadap seni rupa khas Bali tersebut terus berkembang hingga pada 2019 ia mulai menekuni pembuatan tapel dan ogoh-ogoh mini. Meski sempat vakum selama kurang lebih dua tahun dari pembuatan tapel dan ogoh-ogoh mini, kecintaannya terhadap ogoh-ogoh tidak pernah benar-benar padam. Ia tetap terlibat dalam proses pembuatan ogoh-ogoh di banjarnya.
Seiring berjalannya waktu, Nando semakin berani mengeksplorasi gagasan dan mengembangkan karakter karyanya sendiri. Baginya, tantangan terbesar dalam berkarya bukan sekadar mewujudkan sebuah ide menjadi bentuk visual, melainkan bagaimana mengembangkan ide tersebut agar tidak berhenti pada konsep yang biasa atau monoton.
”Ketika mendapatkan ide, saya harus bisa mengembangkannya lagi supaya tidak terpaku pada satu gagasan saja. Ide itu menjadi landasan untuk menembus batas narasi, sinopsis, dan visual agar karya memiliki karakter yang berbeda,” demikian prinsip yang dipegang Nando dalam proses kreatifnya.
Dalam proses penciptaan karya, Nando tidak hanya memikirkan bentuk akhir. Ia terlebih dahulu menyusun konsep, sinopsis, dan narasi, kemudian menerjemahkannya ke dalam visual yang memiliki karakter kuat.
Pengaturan waktu dan pemilihan bahan juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Ia berupaya mengukur tingkat kerumitan karya sejak awal agar proses pengerjaan berjalan sesuai kebutuhan. Untuk bahan, Nando memilih membelinya secara bertahap, mengikuti perkembangan pengerjaan.
Pengalaman mengajarkannya bahwa gagasan dapat berubah dan berkembang di tengah proses berkarya. Karena itu, pembelian bahan secara bertahap dinilai lebih efektif agar material yang digunakan tetap sesuai dengan konsep terbaru.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas bukan hanya perkara imajinasi, tetapi juga kemampuan membaca kebutuhan teknis dan mengelola proses produksi.
Keseriusan Nando di dunia seni mulai terlihat melalui berbagai kompetisi tapel yang diikutinya. Karya Tunyuh Memaid berhasil meraih Juara I dalam Genre Festival di Banjar Gunaksa, Bangli. Sementara itu, Tri Hita Karana memperoleh penghargaan Best Concept di Angkling Festival serta dua gelar Harapan I di HUT HPMI Klungkung dan Langguana Citta Festival (Leak Squad x Seniman Amatir).
Karya tapel ogoh-ogoh Silih-Silih Kambing juga mencatatkan sejumlah prestasi, yakni Juara I Rare Bali Culture Fest, Juara II Ganesha Pemecutan Art Festival, serta Juara III Pancashad Varsa Samhita Art Festival dan HUT STT Tri Eka Jaya.
Prestasi lainnya datang dari karya Mong Dyahmaya, yang meraih Juara Favorit Tirta Gangga Art Festival dan Juara I Parasugeni Festival.
Di kategori ogoh-ogoh, Nando turut mencatatkan pencapaian melalui karya Vatsalya Bhava Karma yang meraih Juara I HUT SMA Negeri 1 Bangli. Karya Eling Pati juga membuahkan sejumlah penghargaan, di antaranya Juara I dalam lomba HUT Kota Bangli, Juara III Ganesha Pemecutan Art Festival, Harapan II Pancashad Varsa Samhita Art Festival, Juara II dalam ajang HMJ Pariwisata dan Perhotelan Fakultas Dharma Duta Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar 2026, serta Juara II Parasugeni Festival 2026.

Deretan penghargaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Nando dalam mengasah kemampuan sekaligus memperluas ruang eksplorasi artistiknya.
Kecintaan Nando terhadap ogoh-ogoh tidak berhenti pada karya mini dan tapel. Ia juga dipercaya merancang konsep sekaligus menjadi arsitek ogoh-ogoh berukuran besar di banjarnya sejak 2025.
Pada tahun tersebut, ia menggarap ogoh-ogoh berjudul Ahengkara. Karya itu mengangkat julukan atau celetukan Mehhnyen sebagai representasi sifat manusia yang gemar meremehkan orang lain, baik terhadap pekerjaan maupun pencapaian seseorang.
Pesan tersebut diterjemahkan melalui gestur figur yang mengangkat tangan kanan ke arah telinga, seolah-olah tidak mau mendengarkan orang lain. Pose itu menjadi simbol sikap angkuh dan ketidakpedulian terhadap sesama.
Eksplorasi Nando berlanjut pada 2026 melalui karya berjudul Singsal. Berangkat dari istilah yang menggambarkan ketidakcocokan, ia mengolahnya menjadi karakter figur yang angkuh, duduk dengan satu kaki terangkat, serta menjulurkan lidah dengan ekspresi meledek.
Melalui dua karya tersebut, Nando memperlihatkan ketertarikannya menjadikan ogoh-ogoh sebagai medium untuk menyampaikan kritik sosial. Gestur tubuh, ekspresi wajah, dan karakter figur tidak sekadar menjadi unsur estetika, tetapi juga bagian dari narasi yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Bagi Nando, perkembangan seni ogoh-ogoh harus berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi Bali. Ia berharap generasi muda tidak kehilangan pijakan budaya ketika mengembangkan kreativitas.
Menurutnya, tradisi bukanlah batas yang menghambat inovasi. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi landasan untuk melahirkan gagasan baru yang lebih beragam dan memiliki identitas kuat.
Ia juga berpesan kepada seniman muda yang masih ragu menampilkan karyanya agar tidak takut mencoba. Sebuah karya, menurut pandangannya, selalu memiliki ruang untuk diperbaiki dan dikembangkan.
“Tidak ada karya seni yang tidak bagus. Ada karya yang mungkin belum sesuai dengan ide yang ingin diwujudkan. Karena itu, jangan takut tampil dan teruslah belajar,” menjadi semangat yang ingin ia bagikan kepada sesama seniman muda.
Lebih jauh, Nando berharap seni ogoh-ogoh Bali semakin dikenal di tingkat internasional. Namun, di tengah perkembangan tersebut, identitas lokal dan nilai-nilai tradisi tetap harus menjadi fondasi utama.
Dari Bangli, Nando terus menapaki perjalanan kreatifnya. Melalui tapel dan ogoh-ogoh, ia berupaya membuktikan bahwa karya seni tradisi dapat terus berkembang, berbicara tentang persoalan manusia, dan menjangkau khalayak yang lebih luas tanpa kehilangan akar budayanya. (*)