Mengulik Sigar Mangsi, Tapel Ogoh-ogoh Karya Putu Tegar yang Mengangkat Cetik Bali

0
Sigar Mangsi 1 EDIT

Karya “Sigar Mangsi” saat mengikuti lomba tapel ogoh-ogoh kategori umum se-Bali pada acara HIPMI Badung di Puspem Badung, Sabtu 26 September 2026.

Balilemuh.id- Tema karya tapel ogoh-ogoh berjudul “Sigar Mangsi” mengangkat jenis cetik (racun) yang ada di Bali. Karya seniman muda asal Gianyar, I Putu Tegar Mahesaputra telah berhasil dua kali mendapat juara.

Juara I lomba tapel ogoh-ogoh  Kalawangun Festival di Wantilan Pura Samuan Tiga dan Juara I lomba Tapel ogoh-ogoh acara yang digelar HIPMI Badung.

Putu Tegar mengakui bahwa tapel ogoh-ogoh “Sigar Mangsi”  ini mengangkat tema dari jenis-jenis cetik yang ada di Bali. Nah, kebetulan dari cetik Sigar Mangsi itu, dia mengeksplorasi ke dalam wujud tapel ogoh-ogoh.

“Kebetulan cetik Sigar Mangsi itu saya bisa berimajinasi sehingga saya harus berpikir lebih dalam untuk menjadikan cetik itu sebagai tapel ogoh ogoh,” jelas Putu Tegar kepada Balilemuh.id, Senin (28/9/2026).

Dia pun lanjut untuk menggarap tapel ogoh-ogoh itu. Bahkan, dalam hitungan waktu yang relatif singkat yakni hanya satu minggu, karya tapel itu pun selesai dikerjakan.

Kemudian, langsung mengikuti lomba di Kalawangun Fest pada tanggal 23 Agustus 2026 dan berhasil mendapat juara I. “Proses pengerjaannya kurang lebih sekitar satu minggu, ” terang pemuda asal Banjar Susut, Payangan, Gianyar, Bali ini.

Sejauh ini, tapel ogoh-ogoh itu sudah dilombakan sebanyak tiga kali dan dua kali berhasil mendapat juara I. Lomba pertama di Kalawangun Fest berlokasi di Wantilan Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar dan berhasil mendapat juara I.

Lomba kedua di Tirta Gangga Art Festival belum berhasil membawa piala. Kemudian lomba ketiga di acara HIPMI Badung pada Sabtu 26 September 2026, berhasil mendapat juara I. “Tapel ini (Sigar Mangsi) sudah tiga kali ikut lomba, ” ungkapnya.

Karya “Sigar Mangsi” saat mengikuti lomba tapel ogoh-ogoh di Kalawangun Festival berlokasi di Wantilan Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar pada tanggal 23 Agustus 2026

Ia pun menjelaskan makna, bentuk dan filosofi dari tapel ogoh-ogoh Sigar Mangsi ini. Menurutnya, cetik Sigar Mangsi berasal dari dua kata, yaitu “Sigar” yang berarti retak, pecah, atau terbelah, dan “Mangsi” yang berarti tinta hitam. ”Sosok ini menggambarkan seorang korban yang perlahan terjerumus hingga akhirnya berubah menjadi pelaku ilmu ngiwa,” jelasnya.

Lebih lanjut, “Sigar” diwujudkan melalui retakan pada kepala sebagai simbol pikiran yang mulai hancur. “Mangsi” diwujudkan melalui darah hitam yang keluar dari mulut dan menodai lontar, melambangkan ilmu hitam yang telah meresap ke dalam diri, keluar melalui ucapan dan perbuatan, hingga mencemari ilmu pengetahuan yang seharusnya menjadi penerang. “Ekspresi sinis menjadi tanda perubahan dirinya dari seorang korban hingga akhirnya menjadi pelaku” ungkapnya.

Kemudian, rambut yang dipusung ke kiri, kanan, dan belakang, menggambarkan pikiran yang bercabang dan kehilangan arah. Kalung kemiri bakar, sebagai sarana penghitam aksara pada lontar, memperkuat keterkaitan antara mangsi, ilmu, dan pengetahuan.

Anting gongseng melambangkan suara batin yang terus mengikuti setiap langkah, menjadi pertanda semakin kuatnya pengaruh Sigar Mangsi hingga korban perlahan kehilangan kendali dan terjerumus ke jalan ngiwa.

“Cetik Sigar Mangsi menjadi gambaran tentang manusia yang kehilangan kendali atas dirinya; kuatnya pengaruh ilmu yang menguasai pikiran dan batin membuat seseorang yang awalnya menjadi korban perlahan berubah menjadi pelaku dan akhirnya terjerumus ke dalam ilmu hitam yang dikenal sebagai ngiwa,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *